Studi Kasus

Mengapa Milenial Lebih Suka Jadi Usahawan Ketimbang Karyawan?

13 Jul 2021, Ditulis oleh Bentangku

Mengapa Milenial Lebih Suka Jadi Usahawan Ketimbang Karyawan?

Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) hingga September 2020 mengungkap, penduduk produktif di Indonesia didominasi oleh generasi milenial lho. Jumlahnya ada 25,87 persen dari 270,20 juta penduduk NKRI. Artinya ada 69,9 juta orang di Tanah Air berusia antara 24-39 tahun.

Indonesia sendiri tengah menikmati fenomena bonus demografi, di mana jumlah penduduk produktif kita mencapai 70,72 persen. Usia produktif yang dimaksud adalah 15-64 tahun. 

Meningkatnya jumlah penduduk produktif tentunya menjadi peluang emas untuk menggerakkan roda perekonomian.

Pada saat yang sama, Indonesia tengah dihempas pandemi Covid-19. Pandemi ini disebut-sebut mengubah segala lini kehidupan. Termasuk cara orang untuk memilih jalan kariernya, mau jadi pekerja atau usahawan, terutama bagi para generasi milenial.

Tanpa ada pandemi, generasi ini sudah unik. Mereka cenderung bergerak cepat, mudah bosan dan kreatif.

Nah, ada baiknya kita bahas satu per satu soal seluk beluk hal tersebut.

Apa Itu Milenial

Mengutip Neil Howe dalam bukunya Millennials Rising: The Next Great Generation, istilah ini muncul pada 1987. Saat itu, anak-anak yang lahir pada 1982 masuk pra-sekolah. Media mulai menyebutnya sebagai kelompok yang terhubung ke milenium baru karena mereka bakal lulus SMA pada tahun 2000.

Dengan kata lain, menurut Howe, generasi milenial adalah mereka yang lahir dalam rentang tahun 1983 sampai dengan 2001.

Jika didasarkan pada Generation Theory yang dicetuskan oleh Karl Mannheim pada 1923, generasi milenial adalah generasi yang lahir pada tahun 1980 sampai 2000.

Sementara, BPS menyebut generasi yang juga disebut sebagai Generasi Y ini adalah mereka yang lahir pada rentang waktu 1981-1996.

Karakter Milenial

Salah satu ciri utama generasi milenial ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakrabannya dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Karena dibesarkan oleh kemajuan teknologi, generasi milenial memiliki ciri-ciri kreatif, informatif, mempunyai passion dan produktif.

IDN Times melansir 10 karakteristik khas dari Gen Y ini, yakni:

1. Gampang Bosan

Mudahnya mengakses internet, mereka mudah mengakses dan membeli barang yang mereka mau. Mereka gerak cepat gerak ketika ada produk keluaran baru.

Namun, hal ini justru membuat mereka cepat bosan. Alhasil mereka suka mengeksplorasi keinginannya.

2. Tak Bisa Hidup Tanpa Gadget

Gadget menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan dari sebagian besar penduduk dunia. Tak peduli dia tua atau muda.

Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan, ditambah dengan akses internet tak terbatas, membuat para milenial betah berselancar.

Gadget saat ini juga menjadi salah satu faktor pendukung di dunia pendidikan dan pekerjaan.

3. Hobi Bayar Non-Cash

Kecanggihan teknologi mempermudah segala aspek kehidupan. Salah satunya terkait urusan bayar membayar. Model transaksi non-tunai berkembang pesat dan hal ini tidak disia-sikan penggandrung ke-instan-an seperti generasi milenial.

4. Suka yang Serba Cepat dan Instan

Lagi-lagi perkembangan teknologi mempengaruhi sikap para milenial. Mereka relatif ingin mendapatkan hal yang dimau tanpa menunggu lama. Pergerakan masyarakat juga membuat mereka lebih memilih hal yang instan dan tidak merepotkan.

Contohnya, lapar, mereka tinggal buka aplikasi. Gunakan telunjuk untuk memilih resto dan menu makanan. Kemudian tinggal menunggu pesanan datang.

5. Memilih Pengalaman daripada Aset

Generasi milenial lebih suka menghabiskan uang untuk mendapat pengalaman dibanding menabung.

6. Pintar ‘Berubah Wujud’

Saat ini, aplikasi chat berjamuran. Bukan tidak mungkin setiap orang punya lebih dari satu fasilitas chat online.

Semua orang pun bisa ngobrol dengan banyak teman sekaligus dalam fitur grup chat.

IDN Times menyebut, sadar atau tidak, kebanyakan milenial punya 'wajah' atau pembawaan yang berbeda antara di satu grup dengan yang lain.

7. Jago Multitasking

Melakukan beberapa tugas secara bersamaan, salah satu ciri khas milenial. Tingkat mobilitas dan aktivitas yang tinggi membuat mereka terbiasa melakukan banyak hal dengan cepat. Misal saja mengetik sembari mendengarkan musik sekaligus bersenandung.

8. Kritis dengan Fenomena Sosial

Banyaknya waktu untuk berselancar di dunia maya, membuat milenial mendapat banyak informasi dan berita dari berbagai belahan dunia. Hal ini merangsang mereka lebih aktif beropini di media sosial tentang berita yang hangat dibicarakan.

9. Sering Posting ke Sosmed

Hai kaum milenial, ada sanggahan?

10. Sharing is Cool

Meski sering asik dengan gadgetnya sendiri, generasi millenials suka berbagi tentang apapun. Tak peduli hal kecil maupun besar, kepada siapa pun dan di mana pun.

Milenial Menurut Negara

Sementara, Kementerian Ketenagakerjaan memiliki penjelasan singkat terkait karakteristik generasi milenial, yakni:

  • Haus pengetahuan
  • Melek digital
  • Tidak suka hal yang rutin
  • Konsumtif
  • Ingin bekerja karena passion
  • Mengutamakan fasilitas dan apresiasi kerja

Pandangan Milenial

Sebuah survei pada 2016 menyebut, generasi milenial membawa kebudayaan “kutu loncat” dalam dunia kerja.

Survei yang dilansir CNN Indonesia itu mengungkap, perusahaan terpaksa mengikuti sifat milenial agar tak ingin lekas kehilangan karyawan handalnya.

Liputan6.com mengutip laman Forbes, milenial sering mencari opsi lain untuk mencari hal-hal yang baru. Mereka kerap memastikan kariernya bertumbuh.

Keseimbangan gaya hidup dan pekerjaan menjadi hal yang paling penting bagi mereka. Oleh karena itu, mereka cenderung mencari pekerjaan yang dapat menunjang gaya hidupnya.

Sisi positifnya, lantaran akrab dengan teknologi di segala aspek kehidupan, mereka menjadi individu yang lebih produktif dan efisien. Dari perangkat tersebut mereka mampu melakukan apapun dari sekadar berkirim pesan singkat, mengakses situs pendidikan, bertransaksi bisnis online. Sering kali hal itu dilakukan dalam waktu yang bersamaan alias multitasking.

Dari sisi pendidikan, generasi milenial memiliki kualitas yang lebih unggul. Generasi ini mempunyai minat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka menyadari pendidikan merupakan prioritas yang utama

Milenial, Uang, dan Pekerjaan

Selain dianggap kutu loncat, Gen-Y dianggap sebagai generasi yang tahan banting. Melansir dari Techtarget.com, milenial bisa menghadapi perubahan dan mudah beradaptasi.

Milenial tak gentar saat menghadapi kesulitan, akan dipecahkan.

Milenial juga membutuhkan keseimbangan dalam hidup, antara bekerja dan bersenang-senang dan kehidupan pribadi. Belajar dari generasi sebelumnya yang terkesan pasrah dengan kondisi yang ada, milenial menginginkan perubahan, termasuk lingkungan kerja yang menyenangkan.

Pada sisi lain, milenial bisa menjadi karyawan yang bisa diandalkan, jujur dan kompeten di bidangnya.   

Namun milenial cenderung skeptis mengenai bujuk raju, terkesan cuek. Apakah itu ketika membeli produk/layanan atau saat mempertimbangkan pekerjaan. Sebab, kala sudah memutuskan suatu hal, milenial tak akan goyah.

Generasi milenial lebih cenderung mendengarkan teman-teman mereka daripada dipengaruhi oleh marketing.

Namun, sebuah survei menyebut ada tiga hal yang menentukan milenial mau menjadi pekerja. Ketiga hal itu adalah faktor gaji; jenis pekerjaan; dan brand perusahaan, durasi waktu bekerja, serta lokasi pekerjaan.

Selain itu, mereka cenderung lebih bersemangat untuk mengambil risiko daripada generasi sebelumnya.

Salah satu alasan di balik tren ini adalah, meskipun sangat berpendidikan dan memiliki keterampilan, generasi milenial masuk ke dunia kerja saat dunia tengah diadang krisis. Akhirnya, hal ini mempengaruhi sikap mereka terhadap risiko.

Menteri Ketenagakerjaan yang waktu itu masih dijabat Muhammad Hanif Dhakiri pernah mengatakan, milenial adalah generasi unik. Termasuk mengenai pola pikir milineal dalam hal pekerjaan.

Pada November 2018 dia menyebut, generasi milenial lebih memilih untuk mendirikan usaha sendiri ketimbang mencari pekerjaan di perusahaan milik orang lain. Sebagai kaum yang dikenal kreatif, inovatif, dan akrab teknologi, mereka memilih menjadi usahawan.

Namun, pemerintah menganggapnya sebagai hal yang baik. Kenapa? Salah satunya karena mereka dapat menciptakan lapangan kerja yang baru.

"Itu tipikal generasi milenial yang sekarang, mencari pekerjaan itu menjadi pilihan yang ketiga," kata Hanif seperti dilansir Inews.

Contoh Sukses Milenial 

Salah satu contoh generasi milenial yang sukses berbisnis adalah Nadiem Makarim. Siapa tak kenal nama sosok Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi itu? Namanya, moncer berkat usaha ojek onlinenya bernama GoJek.

Liputan6.com melansir, lelaki kelahiran tanggal 4 Juli 1984 ini, sempat bekerja di sebuah perusahaan konsultan Mckinsey & Company, Managing Editor di Zalora Indonesia, dan Chief Innovation officer di Kartuku.

Ingin lebih sukses, pada 2015, dia kemudian mendirikan PT GoJek Indonesia. Ide awalnya, dia ingin membantu para penyedia jasa ojek di Indonesia untuk mendapatkan penumpang.

Meski tak terus mulus, usaha Nadiem tersebut terus berkembang hingga saat ini.
 

Baca juga:

Share artikel ini