Studi Kasus

Ini Dia Sejarah Franchise di Dunia dan Indonesia

25 May 2021, Ditulis oleh Bentangku

Ini Dia Sejarah Franchise di Dunia dan Indonesia

Bisnis waralaba alias franchise tak asing lagi di telingamu bukan? Gerainya mudah ditemui di Tanah Air, mulai dari yang kecil hingga skala besar. Sebut saja McDonalds, Doner Kebab, dan Tahu Jeletot Taisi.

Tapi apa sih sebenarnya franchise itu?

Jika ditilik pengertiannya berdasarkan Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2007 tentang Waralaba, franchise adalah hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba.

Sementara, melansir Investopedia, franchise adalah sebuah format bisnis yang dituangkan dalam suatu perjanjian antara franchisor sebagai pemilik hak intelektual, brand, logo dan sistem operasi dan franchisee sebagai penerima (konsep, sistem, penemuan, proses, metode/cara/HAKI, logo, merek). Oleh karena itu, royalty fee wajib dibayarkan oleh franchisee (pembeli waralaba) kepada franchisor (pemilik waralaba) sesuai yang diperjanjikan. Besarannya tergantung dengan jenis usaha serta perhitungan dari franchisor yang mencakup aspek feasibility atau kelayakan suatu usaha franchise. Namun, selama ini, besaran royalty fee yang wajar berkisar 1-12 persen.

Syarat Mendirikan Waralaba

Nah, kalau merujuk pada Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 71 Tahun 2019, jika kamu ingin mendirikan waralaba, usahamu harus memenuhi 6 syarat, yakni:

  • Punya ciri khas. 
  • Terbukti sudah memberikan keuntungan. 
  • Memiliki standar atas pelayanan dan barang dan/atau jasa yang ditawarkan yang dibuat secara tertulis.
  • Mudah diajarkan dan diaplikasikan.
  • Adanya dukungan yang berkesinambungan. 
  • Hak Kekayaan Intelektual (HKI)-nya telah terdaftar.

Awal Mulai Franchise

Waralaba sering dianggap sebagai penemuan zaman modern. International Franchise Association dalam laman resminya menyebut, pada asal-usulnya, waralaba merupakan sejarah perluasan gereja dan sebagai metode awal kendali pemerintah pusat sebelum abad pertengahan.

Secara historistis, tujuan waralaba komersial adalah untuk memungkinkan pekerja untuk membangun bisnis mereka sendiri yang didukung oleh pemilik waralaba.

IFA juga menyebut ada tiga hal yang mendorong pertumbuhan bisnis waralaba. Ketiga hal itu adalah keinginan usahawan untuk berkembang, keterbatasan modal manusia dan keuangan, dan kebutuhan untuk mengatasi jarak yang sangat jauh.

Waralaba di Inggris dan Eropa

Awalnya, waralaba digunakan di Inggris dan Eropa, di mana kerajaan memiliki tanah dan memberikan hak kepada individu yang berkuasa, termasuk gereja, untuk mengelola propertinya. Sebagai imbalan atas hibah tanah ini, para bangsawan dan pejabat gereja diminta untuk melindungi wilayah dengan membentuk pasukan, dan bebas untuk menetapkan tol dan memungut pajak, yang sebagian dibayarkan kepada kerajaan.

Para bangsawan memperbolehkan para petani lokal yang membayar royalti itu untuk menggunakan tanah tersebut, termasuk memanfaatkan tanaman yang ditanam atau hewan yang diburu. Sistem kontrol pemerintah ini ada di Inggris sampai dilarang oleh Council of Trent pada 1562.

Banyak eksplorasi dan perdagangan pada awal-awalnya dilakukan melalui sistem waralaba. Misalnya, Perusahaan Hindia Timur Belanda (1602) yang didirikan sebagai pewaralaba Republik Belanda untuk melakukan eksplorasi dan perdagangan antara Tanjung Harapan dan Selat Magellan. Perusahaan ini memperluas operasinya, pada 1641 menggunakan jasa Kapten Henry Hudson untuk menjelajahi Dunia Baru dan menemukan jalan timur laut di Dunia Baru. Melalui pengaturan ini, Belanda dapat mengklaim Lembah Hudson di New York sampai ke Albany.

Contoh lain, pemberian Raja Inggris kepada Perusahaan London pada 1607. Saat itu, Raja Inggris memberikan piagam untuk Virginia. Kapten Christopher Newport, yang digantikan oleh Kapten John Smith, membawa para pemukim ke Virginia dan mendirikan Jamestown, permukiman permanen Inggris pertama di Dunia Baru. Menyusul pembantaian 347 pemukim oleh Konfederasi India Powhatan pada 1622, raja, yang menuduh salah urus oleh Perusahaan London, menarik piagamnya.

Kemitraan/waralaba di Inggris dan Eropa juga ada dalam industri pembuatan bir. Sebagai imbalan atas bantuan keuangan, pemilik kedai setuju untuk membeli semua bir dan bir putih mereka dari pabrik yang mensponsori. Pabrik bir tidak melakukan kontrol apa pun atas pengoperasian sehari-hari kedai lokal kecuali untuk pembelian tunggal. Metode distribusi hilir ini sekarang dikenal sebagai waralaba tradisional, produk atau merek dagang.

Waralaba Modern

Di Amerika Serikat, banyak sejarah tentang waralaba modern mengutip Albert Singer dan Singer Sewing Machine Company sebagai pemilik waralaba komersial pertama hingga 1851. Namun, pada 1851, John “Albert” Singer yang baru berusia tujuh atau delapan tahun dan Singer Manufacturing Company tidak pernah benar-benar menawarkan waralaba apa pun. Perusahaan itu tumbuh melalui kantor lokal yang dikelola secara mandiri oleh karyawannya.

Waralaba komersial di Amerika Serikat dimulai di Colonies, Philadelphia. Pada 13 September 1731, Benjamin Franklin dan Thomas Whitmarsh menandatangani perjanjian untuk menjalankan bisnis percetakan di Charlestown di Carolina Selatan.

Meskipun perjanjian tersebut tidak identik dengan sistem waralaba zaman modern, banyak elemen terpenting yang dikenal dalam waralaba saat ini disertakan. Jangka waktu perjanjian adalah enam tahun. Whitmarsh diminta untuk mengelola bisnisnya sendiri. Dia bertanggung jawab atas pengeluaran bisnis, semua peralatan dan kertas yang dibutuhkan untuk bisnis harus dibeli dari Franklin dan Whitmarsh bertanggung jawab untuk memelihara peralatan tersebut. Selain itu, Whitmarsh menyetujui perjanjian jangka pendek untuk tidak terlibat dalam bisnis percetakan lainnya selama jangka waktu tersebut, sementara Franklin bebas untuk menjalin hubungan tambahan dengan orang lain.

Whitmarsh mencetak banyak karya Franklin termasuk "Poor Richard’s Almanac;" dan Franklin memiliki hak untuk menunjuk penerus jika Whitmarsh meninggal atau meninggalkan bisnis.

Ketika Whitmarsh meninggal pada 1733, Franklin menunjuk Louis Timothé untuk menjalankan bisnis percetakan Carolina Selatan. Setelah kematiannya pada 1739, Franklin menunjuk istrinya Elizabeth, dan kemudian pada 1747, putranya Peter.

Menarik untuk dicatat, pewaralaba ketiga Franklin adalah seorang wanita, menjadikan Elizabeth Timothé sebagai penerbit wanita pertama di Amerika Utara.

Menyusul pendirian toko percetakan Carolina Selatan, Franklin melanjutkan untuk membangun serangkaian hubungan serupa dengan James Parker (New York); Thomas Smith dan Benjamin Mecom (Antigua); James Franklin Jr. dan Ann Franklin (Newport, R.I.); William Dunlap, Samuel Holland dan John Henry Miller (Lancaster, Pa.) Serta Thomas Fleet (Boston) yang menerbitkan "Boston Evening Post."

Selain mereka yang namanya telah diidentifikasi, Franklin menjalin hubungan untuk pengoperasian toko percetakan di Dominika, Jamaika, Carolina Utara, Georgia, Kanada, dan Inggris Raya. Bagian dari dukungan Franklin selama dia tinggal di Prancis menegosiasikan masuknya Prancis ke dalam perang AS untuk kemerdekaan, berasal dari pendapatan yang dia peroleh dari sistem waralaba.

Meskipun Franklin mungkin telah membangun jaringan waralaba komersial pertama di Amerika Utara, namun ada banyak referensi dalam sejarah Amerika awal untuk pengaturan bisnis serupa.

Misalnya Robert Fulton yang memberi lisensi pada kapal uapnya di Amerika Serikat, Inggris, Rusia, dan India; pemerintah federal dan lokal melaksanakan lisensi/waralaba monopoli untuk membangun sebagian besar infrastruktur listrik dan transportasi negara; dan toko-toko umum di pos-pos militer, penjualan ternak dan barang-barang lainnya dibangun dengan pengaturan lisensi/waralaba yang disediakan untuk wilayah eksklusif dan hak-hak lainnya.

IFA menyebut, pemilik waralaba modern pertama kemungkinan besar adalah Martha Matilda Harper, seorang Kanada-Amerika yang mulai mewaralabakan Harper Method Shops pada 1891.

Berkantor pusat di Rochester, NY, dia memasukkan dalam waralaba perawatan rambutnya banyak elemen yang kita harapkan dalam sebuah sistem waralaba komersial modern termasuk pelatihan awal dan berkelanjutan, produk bermerek, kunjungan lapangan, periklanan, asuransi kelompok dan motivasi. Harper memulai bisnis salonnya pada 1888 dan mengembangkan sistem waralaba menjadi lebih dari 500 salon dan sekolah pelatihan pada puncaknya, dengan lokasi terakhir ditutup pada 1972.

Sejarah Franchise di Indonesia

Lalu bagaimana sejarah waralaba di Indonesia? Sistem waralaba Tanah Air mulai dikenal pada era 1950-an. Saat itu muncul dealer kendaraan bermotor melalui pembelian lisensi.

Perkembangan kedua usaha waralaba kemudian dimulai pada 1970-an. Hal ini ditandai dengan dimulainya sistem pembelian lisensi plus, yaitu ranchisee tidak sekedar menjadi penyalur, tapi juga memiliki hak untuk memproduksi produknya.

Melansir dari Neraca.co.id, agar waralaba dapat berkembang dengan pesat, maka persyaratan utama yang harus dimiliki satu teritori adalah kepastian hukum yang mengikat baik bagi franchisor maupun franchisee.

Tonggak kepastian hukum tentang waralaba di NKRI terpancang pada 18 Juni 1997, yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 16  Tahun 1997 tentang Waralaba. PP Nomor 16 tahun 1997 yang telah diganti dengan PP Nomor 42 tahun 2007 tentang Waralaba.

Selain itu, masih ada beberapa peraturan pendukung lainnya untuk menjamin keberadaan usaha sistem ini.

Baca juga:

Share artikel ini